Disini..di sudut
sekolah
Aku sendiri..menanti..sepi
rasanya
Awan yang menggumpal di
langit senja
Bergumpal dan menari –
nari dengan eloknya
Terdengar
rintik hujan memecah keheningan
Tetesannya
menggugah kehidupan
Kelam..sunyi..sepi
kini menjadi wajah keceriaan
Bersorak
kegirangan
Hujan di kala itu
memberikanku arti keindahan
Meskipun tak dapat
kusentuh
Namun dapat kurasakan
Indah bila kita
mengerti..memahami dan mensyukuri
Hujan
tak mampu menghalangi langkah kaki mungilnya
Ia
tetap menari – nari dalam balutan tetesan hujan
Senyum
keceriaan terpancar di rona wajahnya
Tak
dapat ku pungkiri aku menyukai hujan
Ia mampu tuk
menyembunyikan sedihku..laraku..
Ia juga mampu
menghiburku
Menepikan setiap noda
derita yang ku miliki
Menggantikannya dengan
kesejukan dunia
Kala
sang surya menghampiri
Seketika
wajah hujan pun meredup
Tak
lagi menyapaku dengan kelembutan
Pelangi
keceriaan menghiasi wajahnya
Tak ada lagi tetesan
air hujan bercampur air mata di wajahnya
Kini dia dapat tertawa
lepas..bebas
Sudut sekolah menjadi saksinya
Kisahku, dia, dan hujan
Surabaya, 25 Desember 2014

No comments:
Post a Comment