Monday, February 2, 2015

Aku, Dia, dan Hujan






Disini..di sudut sekolah
Aku sendiri..menanti..sepi rasanya
Awan yang menggumpal di langit senja
Bergumpal dan menari – nari dengan eloknya
Terdengar rintik hujan memecah keheningan
Tetesannya menggugah kehidupan
Kelam..sunyi..sepi kini menjadi wajah keceriaan
Bersorak kegirangan
Hujan di kala itu memberikanku arti keindahan
Meskipun tak dapat kusentuh
Namun dapat kurasakan
Indah bila kita mengerti..memahami dan mensyukuri
Hujan tak mampu menghalangi langkah kaki mungilnya
Ia tetap menari – nari dalam balutan tetesan hujan
Senyum keceriaan terpancar di rona wajahnya
Tak dapat ku pungkiri aku menyukai hujan
Ia mampu tuk menyembunyikan sedihku..laraku..
Ia juga mampu menghiburku
Menepikan setiap noda derita yang ku miliki
Menggantikannya dengan kesejukan dunia
Kala sang surya menghampiri
Seketika wajah hujan pun meredup
Tak lagi menyapaku dengan kelembutan
Pelangi keceriaan menghiasi wajahnya
Tak ada lagi tetesan air hujan bercampur air mata di wajahnya
Kini dia dapat tertawa lepas..bebas
Sudut sekolah menjadi saksinya
Kisahku, dia, dan hujan
Surabaya, 25 Desember 2014

No comments:

Post a Comment