Abad
ke-20 menuntut seorang wanita untuk berkarir untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
baik secara fisik maupun psikis. Seorang wanita yang hidup di era saat ini
tidak hanya diam di rumah dan mengurus anak. Peran budaya yang mengharuskan
wanita memiliki peran gender sebagai femininitas dan laki-laki memiliki peran
gender maskulinitas, namun seiring berjalannya waktu peran tersebut tergeser
keberadaannya. Pada fenomena tersebut seorang wanita juga harus memiliki
maskulinitas yang dimiliki oleh seorang lelaki. Seorang wanita juga menyematkan
maskulin protest dalam mencapai superioritasnya dan menyingkirkan rasa
inferioritasnya dalam mencapai karir yang diinginkannya, khususnya dalam bidang
olahraga tepatnya sebagai atlet. Hal tersebut dapat menggeser posisi laki-laki,
baik dalam pencapaian karir dibidang olahraga maupun dalam hubungan rumah
tangga.
Maskulinitas
dapat diartikan sebagai peran yang identik dengan keberanian, kekuatan, dan
dominan. Maskulinitas adalah lambang keberhasilan seorang anak laki-laki yang
selalu menang, berkuasa, dan berada diatas dalam sebuah hubungan sosial.
Femininitas dapat diartikan sebagai peran wanita yang cenderung memiliki
ketergantungan (dependen), mengasuh, dan lemah lembut. Seorang wanita pada
umumnya memiliki sikap inferioritas karena ia berpikir tak sehebat laki-laki
baik secara fisik atau psikis, sehingga ia sering merasa minder dan pasif untuk
dapat menorehkan sebuah prestasi terlebih dalam bidang olahraga sebagai atlet.
Teori Adler menyatakan bahwa seorang wanita yang memiliki maskulin protest, ia
memiliki peran maskulinitas yang dimiliki oleh laki-laki untuk mencapai
superioritasnya baik dalam karir maupun hubungan antar manusia. Peran maskulinitas
yang mengacu pada keberanian dan kekuatan yang menekan inferioritas untuk
mencapai superioritas.
Ketika
seorang wanita yang sudah berkeluarga dan memilih untuk mengejar karirnya
sebagai seorang atlet. Superioritasnya didapatkan saat berada di puncak karir
sebagai seorang atlet yang mampu menandingi prestasi laki-laki, bukan hanya
saat berada dirumah menikmati perannya sebagai seorang istri yang mampu
mengurus semua kewajibannya. Superioritas berasal dari sebuah agresi yang dapat
diartikan sebagai kekuatan dinamis dibalik sebuah motivasi, wanita yang
memiliki maskulin protest cenderung mendominasi orang lain baik dalam rumah
tangga maupun dalam karirnya sebagai seorang atlet. Jika dalam rumah tangga ia
cenderung mendominasi dalam pola asuh anak, sehingga anak yang diasuhnya dapat
berhasil menjadi seorang yang sukses dan dapat membanggakannya terutama dalam
bidang olahraga seperti apa yang telah dicapainya. Hal tersebut dapat memunculkan
rasa superioritasnya dalam sebuah karir sebagai atlet, seorang wanita cenderung
mendominasi pencapaian prestasi di berbagai kejuaraan bidang olahraga yang
digelutinya. Prestasi tersebut akan membuktikan bahwa ia memiliki superioritas
dan tidak dianggap sebagai wanita yang terbelenggu dalam inferioritasnya.
Seorang
wanita yang memiliki karir sebagai seorang atlet dan juga sebagai ibu rumah
tangga harus mampu mengaplikasikan masculine protestnya dalam kehidupan
sehari-harinya. Wanita yang memiliki karir cemerlang dibanding dengan suaminya
lebih mendominasi dalam sebuah keluarga, karena ia memiliki rasa superioritas
tinggi dibanding suaminya. Tidak jarang hal tersebut dapat membuat keretakan
dalam rumah tangga, pasalnya sebuah superioritas dapat memunculkan keegoisan
seorang individu terutama superioritas pribadi. Superioritas pribadi dapat
diartikan sebagai superioritas yang bersifat personal dan tidak ada hubungannya
dengan orang lain.
Masculine
protest pada seorang wanita diaplikasikan untuk menumbuhkan rasa superioritas
yang ada dalam dirinya dan menghilangkan rasa inferioritas yang dibawanya sejak
lahir. Seorang wanita yang memiliki peran ganda sebagai seorang atlet dan ibu
rumah tangga, ia mampu membuktikan bahwa inferioritas tidak menghalanginya
menuju puncak supeioritas. Prestasinya dibidang olah raga dan sebagai ibu yang
mampu mengasuh anaknya dengan baik merupakan superioritas yang dicapainya
dengan aplikasi masculine protest, yang identik dengan sebuah kekuatan dan
keberanian.
No comments:
Post a Comment