Monday, February 2, 2015

Masculine Protest “Seorang Atlet Wanita”




Abad ke-20 menuntut seorang wanita untuk berkarir untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik secara fisik maupun psikis. Seorang wanita yang hidup di era saat ini tidak hanya diam di rumah dan mengurus anak. Peran budaya yang mengharuskan wanita memiliki peran gender sebagai femininitas dan laki-laki memiliki peran gender maskulinitas, namun seiring berjalannya waktu peran tersebut tergeser keberadaannya. Pada fenomena tersebut seorang wanita juga harus memiliki maskulinitas yang dimiliki oleh seorang lelaki. Seorang wanita juga menyematkan maskulin protest dalam mencapai superioritasnya dan menyingkirkan rasa inferioritasnya dalam mencapai karir yang diinginkannya, khususnya dalam bidang olahraga tepatnya sebagai atlet. Hal tersebut dapat menggeser posisi laki-laki, baik dalam pencapaian karir dibidang olahraga maupun dalam hubungan rumah tangga.
Maskulinitas dapat diartikan sebagai peran yang identik dengan keberanian, kekuatan, dan dominan. Maskulinitas adalah lambang keberhasilan seorang anak laki-laki yang selalu menang, berkuasa, dan berada diatas dalam sebuah hubungan sosial. Femininitas dapat diartikan sebagai peran wanita yang cenderung memiliki ketergantungan (dependen), mengasuh, dan lemah lembut. Seorang wanita pada umumnya memiliki sikap inferioritas karena ia berpikir tak sehebat laki-laki baik secara fisik atau psikis, sehingga ia sering merasa minder dan pasif untuk dapat menorehkan sebuah prestasi terlebih dalam bidang olahraga sebagai atlet. Teori Adler menyatakan bahwa seorang wanita yang memiliki maskulin protest, ia memiliki peran maskulinitas yang dimiliki oleh laki-laki untuk mencapai superioritasnya baik dalam karir maupun hubungan antar manusia. Peran maskulinitas yang mengacu pada keberanian dan kekuatan yang menekan inferioritas untuk mencapai superioritas.
Ketika seorang wanita yang sudah berkeluarga dan memilih untuk mengejar karirnya sebagai seorang atlet. Superioritasnya didapatkan saat berada di puncak karir sebagai seorang atlet yang mampu menandingi prestasi laki-laki, bukan hanya saat berada dirumah menikmati perannya sebagai seorang istri yang mampu mengurus semua kewajibannya. Superioritas berasal dari sebuah agresi yang dapat diartikan sebagai kekuatan dinamis dibalik sebuah motivasi, wanita yang memiliki maskulin protest cenderung mendominasi orang lain baik dalam rumah tangga maupun dalam karirnya sebagai seorang atlet. Jika dalam rumah tangga ia cenderung mendominasi dalam pola asuh anak, sehingga anak yang diasuhnya dapat berhasil menjadi seorang yang sukses dan dapat membanggakannya terutama dalam bidang olahraga seperti apa yang telah dicapainya. Hal tersebut dapat memunculkan rasa superioritasnya dalam sebuah karir sebagai atlet, seorang wanita cenderung mendominasi pencapaian prestasi di berbagai kejuaraan bidang olahraga yang digelutinya. Prestasi tersebut akan membuktikan bahwa ia memiliki superioritas dan tidak dianggap sebagai wanita yang terbelenggu dalam inferioritasnya.
Seorang wanita yang memiliki karir sebagai seorang atlet dan juga sebagai ibu rumah tangga harus mampu mengaplikasikan masculine protestnya dalam kehidupan sehari-harinya. Wanita yang memiliki karir cemerlang dibanding dengan suaminya lebih mendominasi dalam sebuah keluarga, karena ia memiliki rasa superioritas tinggi dibanding suaminya. Tidak jarang hal tersebut dapat membuat keretakan dalam rumah tangga, pasalnya sebuah superioritas dapat memunculkan keegoisan seorang individu terutama superioritas pribadi. Superioritas pribadi dapat diartikan sebagai superioritas yang bersifat personal dan tidak ada hubungannya dengan orang lain.
Masculine protest pada seorang wanita diaplikasikan untuk menumbuhkan rasa superioritas yang ada dalam dirinya dan menghilangkan rasa inferioritas yang dibawanya sejak lahir. Seorang wanita yang memiliki peran ganda sebagai seorang atlet dan ibu rumah tangga, ia mampu membuktikan bahwa inferioritas tidak menghalanginya menuju puncak supeioritas. Prestasinya dibidang olah raga dan sebagai ibu yang mampu mengasuh anaknya dengan baik merupakan superioritas yang dicapainya dengan aplikasi masculine protest, yang identik dengan sebuah kekuatan dan keberanian.

No comments:

Post a Comment