Tuesday, February 3, 2015

CURAHAN HATI RAKYATMU




Wahai pemimpinku
Tak kau lihat betapa pertiwi menangis
Terisak dalam kehampaan janjimu yang semu
Tiada guna tiada arti

Rakyatmu meronta kesakitan
Terinjak dan tak berdaya
Menangis tanpa air mata
Melihat kau melenggangkan tubuhmu

Mulut manis berbisa
Membuat kami kian terpaku menatap dunia
Yang dipenuhi tanda tanya
Yang dipenuhi bualan semata

Tidakkah kau merasakan
Tak bisakah kau menengok kebawah
Kami yang terbuang
Terkucilkan terinjak dan terhempas

Bagai angin yang tak tahu arah
Kami hanyalah segenggam pasir
Kami hanyalah debu
Yang terhempas terbuai akan janji semata

Kami yang merindukan sinar mentari
Mencoba tegar melawan kenyataan
Mencoba bangkit dari keterpurukan
Namun apa daya kami tak berkuasa

Beri kami sedikit uluran tanganmu
Beri kami realisasi segala janjimu
Jangan kau menutup mata dan telingamu
Seakan - akan kau yang paling berkuasa

Buktikan segala bualan janjimu
Agar pertiwi dapat tersenyum lepas
Menatap dunia dengan penuh semangat
Mengobarkan gairah di seluruh nusantara
Surabaya, 02 Februari 2015

Monday, February 2, 2015

Masculine Protest “Seorang Atlet Wanita”




Abad ke-20 menuntut seorang wanita untuk berkarir untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik secara fisik maupun psikis. Seorang wanita yang hidup di era saat ini tidak hanya diam di rumah dan mengurus anak. Peran budaya yang mengharuskan wanita memiliki peran gender sebagai femininitas dan laki-laki memiliki peran gender maskulinitas, namun seiring berjalannya waktu peran tersebut tergeser keberadaannya. Pada fenomena tersebut seorang wanita juga harus memiliki maskulinitas yang dimiliki oleh seorang lelaki. Seorang wanita juga menyematkan maskulin protest dalam mencapai superioritasnya dan menyingkirkan rasa inferioritasnya dalam mencapai karir yang diinginkannya, khususnya dalam bidang olahraga tepatnya sebagai atlet. Hal tersebut dapat menggeser posisi laki-laki, baik dalam pencapaian karir dibidang olahraga maupun dalam hubungan rumah tangga.
Maskulinitas dapat diartikan sebagai peran yang identik dengan keberanian, kekuatan, dan dominan. Maskulinitas adalah lambang keberhasilan seorang anak laki-laki yang selalu menang, berkuasa, dan berada diatas dalam sebuah hubungan sosial. Femininitas dapat diartikan sebagai peran wanita yang cenderung memiliki ketergantungan (dependen), mengasuh, dan lemah lembut. Seorang wanita pada umumnya memiliki sikap inferioritas karena ia berpikir tak sehebat laki-laki baik secara fisik atau psikis, sehingga ia sering merasa minder dan pasif untuk dapat menorehkan sebuah prestasi terlebih dalam bidang olahraga sebagai atlet. Teori Adler menyatakan bahwa seorang wanita yang memiliki maskulin protest, ia memiliki peran maskulinitas yang dimiliki oleh laki-laki untuk mencapai superioritasnya baik dalam karir maupun hubungan antar manusia. Peran maskulinitas yang mengacu pada keberanian dan kekuatan yang menekan inferioritas untuk mencapai superioritas.
Ketika seorang wanita yang sudah berkeluarga dan memilih untuk mengejar karirnya sebagai seorang atlet. Superioritasnya didapatkan saat berada di puncak karir sebagai seorang atlet yang mampu menandingi prestasi laki-laki, bukan hanya saat berada dirumah menikmati perannya sebagai seorang istri yang mampu mengurus semua kewajibannya. Superioritas berasal dari sebuah agresi yang dapat diartikan sebagai kekuatan dinamis dibalik sebuah motivasi, wanita yang memiliki maskulin protest cenderung mendominasi orang lain baik dalam rumah tangga maupun dalam karirnya sebagai seorang atlet. Jika dalam rumah tangga ia cenderung mendominasi dalam pola asuh anak, sehingga anak yang diasuhnya dapat berhasil menjadi seorang yang sukses dan dapat membanggakannya terutama dalam bidang olahraga seperti apa yang telah dicapainya. Hal tersebut dapat memunculkan rasa superioritasnya dalam sebuah karir sebagai atlet, seorang wanita cenderung mendominasi pencapaian prestasi di berbagai kejuaraan bidang olahraga yang digelutinya. Prestasi tersebut akan membuktikan bahwa ia memiliki superioritas dan tidak dianggap sebagai wanita yang terbelenggu dalam inferioritasnya.
Seorang wanita yang memiliki karir sebagai seorang atlet dan juga sebagai ibu rumah tangga harus mampu mengaplikasikan masculine protestnya dalam kehidupan sehari-harinya. Wanita yang memiliki karir cemerlang dibanding dengan suaminya lebih mendominasi dalam sebuah keluarga, karena ia memiliki rasa superioritas tinggi dibanding suaminya. Tidak jarang hal tersebut dapat membuat keretakan dalam rumah tangga, pasalnya sebuah superioritas dapat memunculkan keegoisan seorang individu terutama superioritas pribadi. Superioritas pribadi dapat diartikan sebagai superioritas yang bersifat personal dan tidak ada hubungannya dengan orang lain.
Masculine protest pada seorang wanita diaplikasikan untuk menumbuhkan rasa superioritas yang ada dalam dirinya dan menghilangkan rasa inferioritas yang dibawanya sejak lahir. Seorang wanita yang memiliki peran ganda sebagai seorang atlet dan ibu rumah tangga, ia mampu membuktikan bahwa inferioritas tidak menghalanginya menuju puncak supeioritas. Prestasinya dibidang olah raga dan sebagai ibu yang mampu mengasuh anaknya dengan baik merupakan superioritas yang dicapainya dengan aplikasi masculine protest, yang identik dengan sebuah kekuatan dan keberanian.

“Kisah Kita dan Hujan di Sekolah”




Gemuruh kilat menyambar setiap dahan pepohonan yang rimbun, perlahan-lahan air langit turun setetes demi setetes. Awan mendung membentuk mega-mega, menggumpal dan tampak semakin kelam. Hingga tak kudapati secercah wajah mentari yang tersenyum indah di pagi hari. Setiap detik yang berlalu bagaikan tetesan air hujan yang membasahi dedaunan. Memberikan kehidupan untuk makhluk kecil yang bernaung di bawahnya. Duarrr.. terdengar suara petir menyambar, menumbangkan pepohonan, dan mematahkan rantingnya. Air hujan turun, kali ini tak lagi rintik yang jatuh membasahi bumi. Tampak seperti guyuran bercampur dengan angin kencang yang membasahi setiap jejak langkah kaki ini. Terdengar suara ponsel yang berbunyi, seperti suara nada dering sms masuk. Ternyata itu adalah sms dari teman sebangkuku, Duwi namanya. Dia mengirim pesan bahwa ia tak dapat berangkat ke sekolah karena rumahnya sedang diterjang hujan deras yang tak kunjung reda. Jalanan yang sering ia lewati becek, bahkan ada beberapa jalan yang tergenang banjir. Dan aku membalasnya singkat, “ iya, nanti aku ijinkan ke Bu Guru.”. 
“Oke, terimakasih ulfa.”, Jawabnya. 
Dalam hati aku berkata aku tidak boleh bermalas-malasan, walaupun hujan deras terus mengguyur bercampur dengan angin yang kencang aku harus tetap berangkat ke sekolah. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.15 dan aku masuk pukul 06.30. Kukayuh sepedaku dengan cepat, namun sepertinya aku akan terlambat karena hari ini adalah hari senin. Kemacetan sering terjadi di jalanan arah Surabaya – Jakarta . 
“ Hufftt .. selalu macet, satpamnya kemana sih? “ keluhku. 
Dengan perlahan tapi pasti aku memberanikan diri untuk menyebrang dan menerjang hujan. Dengan berbalutkan sebuah jaket abu-abu yang melindungiku dari guyuran air hujan, aku mempercepat kayuhan sepedaku. Sesampainya di pintu gerbang sekolah aku langsung melompat dari sepeda pink milikku dan kupercepat langkah kaki. 
“Ohh..ternyata parkiran sudah penuh, dimana aku bisa memarkirkan sepedaku?”, tanyaku dalam hati. Kuselipkan sepedaku di lorong-lorong kantin dan aku berlari menuju kelas. Di sebuah lorong kelas yang ku lewati, aku pun merasa terdiam , terpaku, dan terhenyak sesaat. Kulihat sosok yang ku kagumi juga melewati lorong kelas itu. Ia tepat berjalan didepanku, ingin ku sapa namun aku malu. Akhirnya ku urungkan niatku dan aku berjalan perlahan sambil menatapnya dari belakang, berharap dia akan menengok dan tersenyum kepadaku. Namun ternyata berlalu begitu saja tanpa ada sepatah kata pun. Kulanjutkan berlari ke kelasku dan untungnya belum ada guru yang masuk. 
“Aku terlambat ya?”, tanyaku. 
“ Iya, bel masuk sudah berbunyi dari tadi”, kata Fida.
 “ Duwi kemana?  Gak masuk ?”, tanya Fida padaku.
 Akupun menjawab,”Gak, jalanan di rumahnya kebanjiran terus hujannya deras banget”. 
Ternyata kelas hanya ada 15 anak, yang lainnya ijin tidak masuk karena hujan. 
Aku berpikir dan tertegun, ddalam hatiku bertanya,”Apa hanya karena hujan mereka tidak masuk?”.
 Ya, itu kan memang hak mereka  untuk pergi ke sekolah atau tidak dan aku tak punya hak untuk melarangnya selagi orang tua mereka pun mengijinkan untu tidak masuk. Padahal jika menengok ke belakang akupun pernah mengalami seperti yang mereka alami sekarang, tepatnya ketika aku duduk di bangku SMP. Hujan deras mengguyur dan banjir menenggelamkan jalanan yang ku lewati, namun orang tuaku tetap menyemangatiku tuk pergi ke sekolah. Mereka berpikir ilmu yang didapatkan hari ini tak sama seperti yang di dapatkan hari setelahnya. Pernah aku berkata pada mamaku untuk tidak masuk karena hujan dan banjir,
” Ma, adik gak masuk sekolah ya? Kan hujan? Banjir loh di Kalikapas”.
”Loh kan bisa lewat Desa Kacang ?”, Jawab Mamaku. 
“Iya ilmu itu mahal harganya. Tak bisa kau dapat lagi ilmu yang sama pada hari ini dilain hari”, Kata Papaku. “Hmmm, Iya lah. Berangkat dulu ya. Assalamu’alaikum.”, Ujarku.
 “Wa’alaikumsalam Warahmatullahhi Wabarakatuh.”, Jawab Mama dan Papa. 
Memang biaya pendidikan itu mahal, jika ilmunya tak dimanfaatkan dan didapatkan semaksimal mungkin apalah gunanya. Disitulah aku mulai berpikir bahwa orang tua tak kenal lelah dan tak pernah putus asa untuk mencarikan uang demi membiayai anak mereka hingga tingkat pendidikan teratas. Meskipun hujan badai menerjang tak menghalau langkah dan semangat mereka. Bahkan seutas senyuman masihlah terpancar dari wajah renta mereka. Sudah berkali-kali aku menyarankan kepada mereka tuk tetap pergi kesekolah apapun alasannya, terutama jika mereka tidak masuk sekolah karena hujan.
“Hujannya deras banget ya?  Kapan berhentinya ya? Hmmmm pulang yuk, hehehe.”, canda Nina. 
“Iya hujan-hujan gini enaknya tidur nih”, tambah Aulia. 
“Fa, kamu gak kedinginan ta? Kan habis mandi hujan? Hehehe”, ujar Fida. 
“Iyaa nih, eh kenapa ya kok banyak banget yang gak masuk hari ini padahal kan sayang banget. Orang tua mereka aja gak pernah lelah buat cari nafkah, walau hujan badai menerjang.”, kataku.
“Iya aku pun tak tahu apa yang ada di pikiran mereka”, kata Fida.
 “Iya sih kan biaya sekolah sekarang makin mahal, semuanya naik. Belum lagi praktek kita, bahannya mahal semua.”, kata Aulia. 
“Ini kok malah, nyambung ke praktek segala sih”, kata Fida.
 “Hmmm aulia kan emang ibu-ibu rempong.”, kata Nina.
 Hari itu kami habiskan dengan bersenda gurau karena guru-guru menghadiri rapat penting. Ketika bel tanda pulang berbunyi, kami segera bergegas untuk pulang. Rintik hujan masih menghiasi langit di siang itu. Terdengar suara aneh diluar kelas, bukkkkkk. “Suara apa itu?”, tanya Fida, Nina, Ana, dan Aku secara bersamaan. 
Kami pun langsung keluar dengan cepatnya melihat apa yang sedang terjadi dan suara apakah itu. Kami tercengang ternyata Qori’ teman sekelas kami terpeleset karena anak tangga yang licin di genangi air hujan. Aku, Fida, dan Nina segera turun ke bawah dan menolongnya. 
“Mana yang sakit ri’?”, tanyaku.
“Gak ada yang sakit kok, hehe.” Jawab Qori’. 
“Beneran?”,tanya Fida yang ingin memastikan bahwa keadaan Qori’ baik-bak saja.
 “Aku ambil tas dulu ya?”,kata Qori’.
 “Udah tak ambilin aja.”, kata Nina. 
“Makasih ya.”, kata Qori’. 
“Nin, aku juga ambilin ya hehehe.”, candaku dengan Fida.
Aku pun mengambil tas dan berjalan menuju tempat parkir untuk mengambil sepedaku. Dan lagi-agi aku berjumpa dengannya. Dag,,dig,,dug,,rasanya jantungku mau copot , jika harus melihat wajahnya yang rupawan. Aku menundukkan pandanganku, jika berpapasan dengannya.
 “Baru pulang?”, sapanya.
 “Hehehe, iya kak”, Jawabku. Dan dia berlalu begitu saja dengan sepeda motornya. Akupun menuntun sepeda pink usangku dan mengayuhnya perlahan. Ya aku hanyalah mengaguminya, karena suatu hari aku pernah melihatnya bergandengan dengan seorang gadis di bawah rintik hujan. Memang miris dan sedih melihatnya, namun itu semua tak sebanding dengan senyuman orang-orang yang menyayangiku.
Keesokan harinya praktek hidangan kontinental pun dimulai, dengan wajah sumringah aku pun melakukannya dengan santai ku bawa semua bahan yang akan ku gunakan. Lagi-lagi rintik hujan turun dilangit yang cerah. 
“Hmmmm, hujan lagi”,ujarku. Aku mengayuh sepeda degan santai karena jam tangan masih menunjukkan pukul 06.00. Sesampainya di sekolah akupun mempercepat langkah kaki menuju ruang praktek. Kulihat teman-temanku sudah mempersiapkan perlatan yang akan digunakan untuk memasak. Dan aku pun tak mau ketinggalan, kuraih peralatan yang ada dan kuletakkan di meja kerjaku. Waktu berlalu begitu cepatnya akhirnya penilaian pun dimulai. Tester makanan yang ku buat pertama kali untuk hidangan kontinental tepatnya Yellow Salad.
 “Mayonnaise – nya kurang asin masih kebanyakan cuka, asam !”, ujar Guruku.
 Dengan malu – malu akupun menjawabnya dengan sedikit tawa, “hehehe, iya bu”.
 Teman sekelasku pun menertawai dan melucu, “ Mungkin dikasih keringat bu, makanya asam banget”. 
Terlihat kegembiraan terpancar diwajah mereka kala itu, dengan tersipu malu akupun ikut merasakan kegembiraan itu. Akhirnya, bel pulang pun berbunyi dan kami telah menyelesaikan ugas hari ini dengan baik. Langkah kaki bergerak menuju tempat parkir dan mulai mengayuh sepeda pink usang milikku yang selalu menemaniku untuk pergi menuju sekolah.
Selang waktu berganti kini tibalah aku di penghujung SMK, kisah kami akan segera berakhir. Tak ada lagi canda tawa yang terlihat di masa itu, yang ada hanyalah wajah ketegangan yang menikam setiap pagi menjelang. Merenggut semua rona wajah keceriaan, tekad bulat tuk meraih sebuah kesuksesan. Kini tak ada lagi waktu tuk bermalas – malasan untuk sebuah kesuksesan. Kali ini hujan turun lagi dengan derasnya saat kami memulai les matematika dan bahasa inggris tuk persiapan UNAS, sisa waktu kami tinggal seminggu lagi. 
“Wuiihhh hujannya menakutkan, deras banget cuy.”,Ujar Indah. 
Sebuah kilatan petir menyambar dan tak lama kemudian Duarrrrrr, terdegar gemuruh yang menggelegar. Teriakan semua temanku pun tak tertahankan, mereka berteriak sambil menutup mata dan memegang erat tangan disebelahnya. Setelah hujan sedikit reda kami membuat candaan nama – nama facebook yang ditulis di papan tulis kelas. Dan kami pun saling berpelukan satu sama lain, mengingat waktu kebersamaan yang terbatas dan kami akan memilih jalan hidup masing – masing. Tangis tak dapat terhalau oleh rintik hujan yang ada di luar jendela kayu usang dan berdebu. 
“Hiks..hiks, aku pasti akan kangen kalian semua.”, kata Umul. 
“Iyaa kalau lulus, jangan lupa kabari lagi ya,hiks..hiks”,ujar Fida. 
“Pasti, kita kan teman selamanya.”, Ujar kami bebarengan.
Setiap kali hujan turun aku selalu mengingat kenangan indah bersama mereka. Karena merekalah yang membuat hujan memiliki warna tersendiri dalam hidupku. Canda, tawa, tangis, duka, banyak lagi yang tak dapat ku sebutkan. Terimakasih telah menjadi bagian terindah dalam hidupku kawan. Tetaplah berlari mengejar anganmu. Kenangan kita dan hujan di sekolah akan tetap melekat di hati. Takkan terlupa hingga akhir hayatku nanti.

Aku, Dia, dan Hujan






Disini..di sudut sekolah
Aku sendiri..menanti..sepi rasanya
Awan yang menggumpal di langit senja
Bergumpal dan menari – nari dengan eloknya
Terdengar rintik hujan memecah keheningan
Tetesannya menggugah kehidupan
Kelam..sunyi..sepi kini menjadi wajah keceriaan
Bersorak kegirangan
Hujan di kala itu memberikanku arti keindahan
Meskipun tak dapat kusentuh
Namun dapat kurasakan
Indah bila kita mengerti..memahami dan mensyukuri
Hujan tak mampu menghalangi langkah kaki mungilnya
Ia tetap menari – nari dalam balutan tetesan hujan
Senyum keceriaan terpancar di rona wajahnya
Tak dapat ku pungkiri aku menyukai hujan
Ia mampu tuk menyembunyikan sedihku..laraku..
Ia juga mampu menghiburku
Menepikan setiap noda derita yang ku miliki
Menggantikannya dengan kesejukan dunia
Kala sang surya menghampiri
Seketika wajah hujan pun meredup
Tak lagi menyapaku dengan kelembutan
Pelangi keceriaan menghiasi wajahnya
Tak ada lagi tetesan air hujan bercampur air mata di wajahnya
Kini dia dapat tertawa lepas..bebas
Sudut sekolah menjadi saksinya
Kisahku, dia, dan hujan
Surabaya, 25 Desember 2014