Gemuruh kilat menyambar
setiap dahan pepohonan yang rimbun, perlahan-lahan air langit turun setetes
demi setetes. Awan mendung membentuk mega-mega, menggumpal dan tampak semakin
kelam. Hingga tak kudapati secercah wajah mentari yang tersenyum indah di pagi
hari. Setiap detik yang berlalu bagaikan tetesan air hujan yang membasahi
dedaunan. Memberikan kehidupan untuk makhluk kecil yang bernaung di bawahnya. Duarrr..
terdengar suara petir menyambar, menumbangkan pepohonan, dan mematahkan
rantingnya. Air hujan turun, kali ini tak lagi rintik yang jatuh membasahi
bumi. Tampak seperti guyuran bercampur dengan angin kencang yang membasahi setiap
jejak langkah kaki ini. Terdengar suara ponsel yang berbunyi, seperti suara
nada dering sms masuk. Ternyata itu adalah sms dari teman sebangkuku, Duwi
namanya. Dia mengirim pesan bahwa ia tak dapat berangkat ke sekolah karena
rumahnya sedang diterjang hujan deras yang tak kunjung reda. Jalanan yang
sering ia lewati becek, bahkan ada beberapa jalan yang tergenang banjir. Dan
aku membalasnya singkat, “ iya, nanti aku ijinkan ke Bu Guru.”.
“Oke,
terimakasih ulfa.”, Jawabnya.
Dalam hati aku berkata aku tidak boleh
bermalas-malasan, walaupun hujan deras terus mengguyur bercampur dengan angin
yang kencang aku harus tetap berangkat ke sekolah. Jam dinding sudah
menunjukkan pukul 06.15 dan aku masuk pukul 06.30. Kukayuh sepedaku dengan
cepat, namun sepertinya aku akan terlambat karena hari ini adalah hari senin.
Kemacetan sering terjadi di jalanan arah Surabaya – Jakarta .
“ Hufftt ..
selalu macet, satpamnya kemana sih? “ keluhku.
Dengan perlahan tapi pasti aku
memberanikan diri untuk menyebrang dan menerjang hujan. Dengan berbalutkan
sebuah jaket abu-abu yang melindungiku dari guyuran air hujan, aku mempercepat
kayuhan sepedaku. Sesampainya di pintu gerbang sekolah aku langsung melompat
dari sepeda pink milikku dan kupercepat langkah kaki.
“Ohh..ternyata parkiran
sudah penuh, dimana aku bisa memarkirkan sepedaku?”, tanyaku dalam hati.
Kuselipkan sepedaku di lorong-lorong kantin dan aku berlari menuju kelas. Di
sebuah lorong kelas yang ku lewati, aku pun merasa terdiam , terpaku, dan
terhenyak sesaat. Kulihat sosok yang ku kagumi juga melewati lorong kelas itu.
Ia tepat berjalan didepanku, ingin ku sapa namun aku malu. Akhirnya ku urungkan
niatku dan aku berjalan perlahan sambil menatapnya dari belakang, berharap dia
akan menengok dan tersenyum kepadaku. Namun ternyata berlalu begitu saja tanpa
ada sepatah kata pun. Kulanjutkan berlari ke kelasku dan untungnya belum ada
guru yang masuk.
“Aku terlambat ya?”, tanyaku.
“ Iya, bel masuk sudah berbunyi
dari tadi”, kata Fida.
“ Duwi kemana?
Gak masuk ?”, tanya Fida padaku.
Akupun menjawab,”Gak, jalanan di
rumahnya kebanjiran terus hujannya deras banget”.
Ternyata kelas hanya ada 15
anak, yang lainnya ijin tidak masuk karena hujan.
Aku berpikir dan tertegun,
ddalam hatiku bertanya,”Apa hanya karena hujan mereka tidak masuk?”.
Ya, itu
kan memang hak mereka untuk pergi ke
sekolah atau tidak dan aku tak punya hak untuk melarangnya selagi orang tua
mereka pun mengijinkan untu tidak masuk. Padahal jika menengok ke belakang
akupun pernah mengalami seperti yang mereka alami sekarang, tepatnya ketika aku
duduk di bangku SMP. Hujan deras mengguyur dan banjir menenggelamkan jalanan
yang ku lewati, namun orang tuaku tetap menyemangatiku tuk pergi ke sekolah.
Mereka berpikir ilmu yang didapatkan hari ini tak sama seperti yang di dapatkan
hari setelahnya. Pernah aku berkata pada mamaku untuk tidak masuk karena hujan
dan banjir,
” Ma, adik gak masuk sekolah ya? Kan hujan? Banjir loh di
Kalikapas”.
”Loh kan bisa lewat Desa Kacang ?”, Jawab Mamaku.
“Iya ilmu itu
mahal harganya. Tak bisa kau dapat lagi ilmu yang sama pada hari ini dilain
hari”, Kata Papaku. “Hmmm, Iya lah. Berangkat dulu ya. Assalamu’alaikum.”,
Ujarku.
“Wa’alaikumsalam Warahmatullahhi Wabarakatuh.”, Jawab Mama dan Papa.
Memang
biaya pendidikan itu mahal, jika ilmunya tak dimanfaatkan dan didapatkan
semaksimal mungkin apalah gunanya. Disitulah aku mulai berpikir bahwa orang tua
tak kenal lelah dan tak pernah putus asa untuk mencarikan uang demi membiayai
anak mereka hingga tingkat pendidikan teratas. Meskipun hujan badai menerjang
tak menghalau langkah dan semangat mereka. Bahkan seutas senyuman masihlah
terpancar dari wajah renta mereka. Sudah berkali-kali aku menyarankan kepada
mereka tuk tetap pergi kesekolah apapun alasannya, terutama jika mereka tidak
masuk sekolah karena hujan.
“Hujannya deras banget
ya? Kapan berhentinya ya? Hmmmm pulang
yuk, hehehe.”, canda Nina.
“Iya hujan-hujan gini enaknya tidur nih”, tambah
Aulia.
“Fa, kamu gak kedinginan ta? Kan habis mandi hujan? Hehehe”, ujar Fida.
“Iyaa nih, eh kenapa ya kok banyak banget yang gak masuk hari ini padahal kan
sayang banget. Orang tua mereka aja gak pernah lelah buat cari nafkah, walau
hujan badai menerjang.”, kataku.
“Iya aku pun tak tahu apa yang ada di pikiran
mereka”, kata Fida.
“Iya sih kan biaya sekolah sekarang makin mahal, semuanya
naik. Belum lagi praktek kita, bahannya mahal semua.”, kata Aulia.
“Ini kok
malah, nyambung ke praktek segala sih”, kata Fida.
“Hmmm aulia kan emang
ibu-ibu rempong.”, kata Nina.
Hari itu kami habiskan dengan bersenda gurau
karena guru-guru menghadiri rapat penting. Ketika bel tanda pulang berbunyi, kami
segera bergegas untuk pulang. Rintik hujan masih menghiasi langit di siang itu.
Terdengar suara aneh diluar kelas, bukkkkkk. “Suara apa itu?”, tanya Fida,
Nina, Ana, dan Aku secara bersamaan.
Kami pun langsung keluar dengan cepatnya
melihat apa yang sedang terjadi dan suara apakah itu. Kami tercengang ternyata
Qori’ teman sekelas kami terpeleset karena anak tangga yang licin di genangi
air hujan. Aku, Fida, dan Nina segera turun ke bawah dan menolongnya.
“Mana
yang sakit ri’?”, tanyaku.
“Gak ada yang sakit kok, hehe.” Jawab Qori’.
“Beneran?”,tanya Fida yang ingin memastikan bahwa keadaan Qori’ baik-bak saja.
“Aku ambil tas dulu ya?”,kata Qori’.
“Udah tak ambilin aja.”, kata Nina.
“Makasih ya.”, kata Qori’.
“Nin, aku juga ambilin ya hehehe.”, candaku dengan
Fida.
Aku pun mengambil tas
dan berjalan menuju tempat parkir untuk mengambil sepedaku. Dan lagi-agi aku
berjumpa dengannya. Dag,,dig,,dug,,rasanya jantungku mau copot , jika harus
melihat wajahnya yang rupawan. Aku menundukkan pandanganku, jika berpapasan
dengannya.
“Baru pulang?”, sapanya.
“Hehehe, iya kak”, Jawabku. Dan dia berlalu
begitu saja dengan sepeda motornya. Akupun menuntun sepeda pink usangku dan
mengayuhnya perlahan. Ya aku hanyalah mengaguminya, karena suatu hari aku
pernah melihatnya bergandengan dengan seorang gadis di bawah rintik hujan.
Memang miris dan sedih melihatnya, namun itu semua tak sebanding dengan
senyuman orang-orang yang menyayangiku.
Keesokan harinya
praktek hidangan kontinental pun dimulai, dengan wajah sumringah aku pun
melakukannya dengan santai ku bawa semua bahan yang akan ku gunakan. Lagi-lagi
rintik hujan turun dilangit yang cerah.
“Hmmmm, hujan lagi”,ujarku. Aku
mengayuh sepeda degan santai karena jam tangan masih menunjukkan pukul 06.00.
Sesampainya di sekolah akupun mempercepat langkah kaki menuju ruang praktek.
Kulihat teman-temanku sudah mempersiapkan perlatan yang akan digunakan untuk
memasak. Dan aku pun tak mau ketinggalan, kuraih peralatan yang ada dan kuletakkan
di meja kerjaku. Waktu berlalu begitu cepatnya akhirnya penilaian pun dimulai.
Tester makanan yang ku buat pertama kali untuk hidangan kontinental tepatnya
Yellow Salad.
“Mayonnaise – nya kurang asin masih kebanyakan cuka, asam !”,
ujar Guruku.
Dengan malu – malu akupun menjawabnya dengan sedikit tawa,
“hehehe, iya bu”.
Teman sekelasku pun menertawai dan melucu, “ Mungkin dikasih
keringat bu, makanya asam banget”.
Terlihat kegembiraan terpancar diwajah
mereka kala itu, dengan tersipu malu akupun ikut merasakan kegembiraan itu.
Akhirnya, bel pulang pun berbunyi dan kami telah menyelesaikan ugas hari ini
dengan baik. Langkah kaki bergerak menuju tempat parkir dan mulai mengayuh
sepeda pink usang milikku yang selalu menemaniku untuk pergi menuju sekolah.
Selang waktu berganti
kini tibalah aku di penghujung SMK, kisah kami akan segera berakhir. Tak ada
lagi canda tawa yang terlihat di masa itu, yang ada hanyalah wajah ketegangan
yang menikam setiap pagi menjelang. Merenggut semua rona wajah keceriaan, tekad
bulat tuk meraih sebuah kesuksesan. Kini tak ada lagi waktu tuk bermalas –
malasan untuk sebuah kesuksesan. Kali ini hujan turun lagi dengan derasnya saat
kami memulai les matematika dan bahasa inggris tuk persiapan UNAS, sisa waktu
kami tinggal seminggu lagi.
“Wuiihhh hujannya menakutkan, deras banget
cuy.”,Ujar Indah.
Sebuah kilatan petir menyambar dan tak lama kemudian
Duarrrrrr, terdegar gemuruh yang menggelegar. Teriakan semua temanku pun tak
tertahankan, mereka berteriak sambil menutup mata dan memegang erat tangan disebelahnya.
Setelah hujan sedikit reda kami membuat candaan nama – nama facebook yang
ditulis di papan tulis kelas. Dan kami pun saling berpelukan satu sama lain,
mengingat waktu kebersamaan yang terbatas dan kami akan memilih jalan hidup
masing – masing. Tangis tak dapat terhalau oleh rintik hujan yang ada di luar
jendela kayu usang dan berdebu.
“Hiks..hiks, aku pasti akan kangen kalian
semua.”, kata Umul.
“Iyaa kalau lulus, jangan lupa kabari lagi
ya,hiks..hiks”,ujar Fida.
“Pasti, kita kan teman selamanya.”, Ujar kami
bebarengan.
Setiap kali hujan turun
aku selalu mengingat kenangan indah bersama mereka. Karena merekalah yang
membuat hujan memiliki warna tersendiri dalam hidupku. Canda, tawa, tangis,
duka, banyak lagi yang tak dapat ku sebutkan. Terimakasih telah menjadi bagian
terindah dalam hidupku kawan. Tetaplah berlari mengejar anganmu. Kenangan kita
dan hujan di sekolah akan tetap melekat di hati. Takkan terlupa hingga akhir
hayatku nanti.