Wednesday, January 27, 2016

Mungkin



Mungkin
Sebuah kejujuran ini tak dapat kunyatakan
Ku hanya bisa memendam semua ini
Menjamahmu pun aku tak sanggup
Mungkin akulah pungguk yang merindukan bulan
Mentari yang tertutup awan
Bunga yang tak pernah  bermekaran
Ombak yang bersembunyi dibalik karang
Keindahan hadirmu..parasmu..dan hatimu
Mampu meluluhlantahkan kerasnya hati ini
hati yang merindukan kehadiran sang pangeran
pangeran berkuda putih yang gagah berani
            akankah perasaan ini kan terus bersemayam
tak pernah tersirat dalam tutur kata
bahkan dalam bahasa kalbu pun aku tak mampu
biarlah aku dan Tuhan yang tahu
biarlah aku selalu bersamamu dalam anganku
dalam imajiku walau hanya sementara
dalam mimpiku walau hanya semalam
dalam bayangku walau sekejap mata
tak ingin ku kau tahu
bahwa ..aku sang wanita yang tak rupawan
mendambakan sang pangeran berparas tampan
berhati lembut dan bertutur kata manis

Sebait Rinduku



Rinai hujan membasahi dedaunan
Senja menjelang langitpun kelam
Sajak kerinduan tercipta tanpa bait
Semakin tersirat pilunya hati

Tak dapat tersematkan dalam rangkaian kata
Tak dapat terlukiskan oleh raut wajah
Tersembunyi di bilik hati
Tanpa seorangpun yang mengetahui

Ku bersembunyi dari kejamnya rindu
Rindu yang selalu menghampiri malam gelapku
Ku tak sanggup memungikirinya
Tak sanggup ku berpaling darinya

Apalah dayaku bila rindu ini telah membelenggu
Menistakanku dalam kesucian cinta
Sepenggal rinduku terlantunkan dalam sebait doa
Yang selalu ku haturkan pada Sang Pencipta

Sepenggal luka




Sesak..hampa kini yang ku rasa
Tiada lagi bayangmu yang mengisi jiwa
Musnah sudah di telan sang waktu
Tanpa kata..tanpa berita

Bersama luka yang kian menyiksa
Ku sampaikan tabir derita
Yang membelenggu
Menghempas kalbu

Janjimu penuh kenistaan
Luka menyayat teramat dalam
Menusuk relung..mengoyak rindu
Tiada berbalas..tiada berbekas












Saturday, March 7, 2015

Negeriku

Kala sang surya menyinari bumi pertiwi
Sang awan tak henti mengitari
Menjelajahi setiap sudut negeri
Menjamah kekayaan yang tersembunyi
Gemah ripah loh jinawi
Mungkin itulah julukanmu
Tiada pernah kusangka mengapa semua seperti ini
Aku ingin bertanya namun pada siapa harus kuungkapkan
Tiadakah yang mengerti
Ketika sang pohon mengais sisa air pengharapan
Tiadakah yang mendengar
Betapa sang pertiwi menangis.. menjerit ..dan meraung
Tikus berdasi mencabikmu hingga tak berdaya
Tak punyakah sedikit nurani.. atau hatinya telah mati
Mereka hanyalah menampakkan kepura-puraan yang nyata
Hingga sang semut kecil terpikat.. terjerat oleh angan yang semu
Janji tinggallah janji .. ucapan tak lagi bermakna
Negeri yang damai ,,asri,,sejahtera
Apakah hanya angan belaka
Mungkinkah semua realita ini hanyalah permainan si tikus berdasi
Dan semut kecil menjadi korbannya
Terinjak.. terbuang.. dan terhempas angin derita
Akankah ada kucing bertopi yang menumpas habis semua tikus berdasi
Dan si semut kecil akan bersorak kegirangan dengan wajah yang penuh keceriaan
Entahlah..
Hanya Tuhan yang tau alur kisah negeriku
Alur yang dipenuhi sebuah misteri
Karena sesungguhnya negeri ini adalah milik-Nya

“Cinta Sesaatku”

Sejenak aku terpikat..terhanyut oleh sebuah senyuman
Senyum manis di sudut sekolah
Tertawan oleh paras rupawan
Terpikat oleh sebuah kerlingan
            Dia yang selalu hadir dalam mimpiku
            Mimpi indah yang dihiasi oleh bayang wajahmu
            Tak dapat aku berpaling
            Walau hanya sekejap saja
Aku tak tahu mengapa aku begini
Terus merindui seseorang yang tak halal bagiku
Aku tak ingin dalam lautan cinta
Cinta yang mengombang – ambingkan imanku
            Kau hanyalah cinta sesaatku
            Karena Sang Penciptalah Maha Pembolak – balik hati
            Cintaku padamu dapat sirna seketika
            Jika Allah tak menghendaki-Nya
Surabaya, 01 Januari 2015

Tuesday, February 3, 2015

CURAHAN HATI RAKYATMU




Wahai pemimpinku
Tak kau lihat betapa pertiwi menangis
Terisak dalam kehampaan janjimu yang semu
Tiada guna tiada arti

Rakyatmu meronta kesakitan
Terinjak dan tak berdaya
Menangis tanpa air mata
Melihat kau melenggangkan tubuhmu

Mulut manis berbisa
Membuat kami kian terpaku menatap dunia
Yang dipenuhi tanda tanya
Yang dipenuhi bualan semata

Tidakkah kau merasakan
Tak bisakah kau menengok kebawah
Kami yang terbuang
Terkucilkan terinjak dan terhempas

Bagai angin yang tak tahu arah
Kami hanyalah segenggam pasir
Kami hanyalah debu
Yang terhempas terbuai akan janji semata

Kami yang merindukan sinar mentari
Mencoba tegar melawan kenyataan
Mencoba bangkit dari keterpurukan
Namun apa daya kami tak berkuasa

Beri kami sedikit uluran tanganmu
Beri kami realisasi segala janjimu
Jangan kau menutup mata dan telingamu
Seakan - akan kau yang paling berkuasa

Buktikan segala bualan janjimu
Agar pertiwi dapat tersenyum lepas
Menatap dunia dengan penuh semangat
Mengobarkan gairah di seluruh nusantara
Surabaya, 02 Februari 2015

Monday, February 2, 2015

Masculine Protest “Seorang Atlet Wanita”




Abad ke-20 menuntut seorang wanita untuk berkarir untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik secara fisik maupun psikis. Seorang wanita yang hidup di era saat ini tidak hanya diam di rumah dan mengurus anak. Peran budaya yang mengharuskan wanita memiliki peran gender sebagai femininitas dan laki-laki memiliki peran gender maskulinitas, namun seiring berjalannya waktu peran tersebut tergeser keberadaannya. Pada fenomena tersebut seorang wanita juga harus memiliki maskulinitas yang dimiliki oleh seorang lelaki. Seorang wanita juga menyematkan maskulin protest dalam mencapai superioritasnya dan menyingkirkan rasa inferioritasnya dalam mencapai karir yang diinginkannya, khususnya dalam bidang olahraga tepatnya sebagai atlet. Hal tersebut dapat menggeser posisi laki-laki, baik dalam pencapaian karir dibidang olahraga maupun dalam hubungan rumah tangga.
Maskulinitas dapat diartikan sebagai peran yang identik dengan keberanian, kekuatan, dan dominan. Maskulinitas adalah lambang keberhasilan seorang anak laki-laki yang selalu menang, berkuasa, dan berada diatas dalam sebuah hubungan sosial. Femininitas dapat diartikan sebagai peran wanita yang cenderung memiliki ketergantungan (dependen), mengasuh, dan lemah lembut. Seorang wanita pada umumnya memiliki sikap inferioritas karena ia berpikir tak sehebat laki-laki baik secara fisik atau psikis, sehingga ia sering merasa minder dan pasif untuk dapat menorehkan sebuah prestasi terlebih dalam bidang olahraga sebagai atlet. Teori Adler menyatakan bahwa seorang wanita yang memiliki maskulin protest, ia memiliki peran maskulinitas yang dimiliki oleh laki-laki untuk mencapai superioritasnya baik dalam karir maupun hubungan antar manusia. Peran maskulinitas yang mengacu pada keberanian dan kekuatan yang menekan inferioritas untuk mencapai superioritas.
Ketika seorang wanita yang sudah berkeluarga dan memilih untuk mengejar karirnya sebagai seorang atlet. Superioritasnya didapatkan saat berada di puncak karir sebagai seorang atlet yang mampu menandingi prestasi laki-laki, bukan hanya saat berada dirumah menikmati perannya sebagai seorang istri yang mampu mengurus semua kewajibannya. Superioritas berasal dari sebuah agresi yang dapat diartikan sebagai kekuatan dinamis dibalik sebuah motivasi, wanita yang memiliki maskulin protest cenderung mendominasi orang lain baik dalam rumah tangga maupun dalam karirnya sebagai seorang atlet. Jika dalam rumah tangga ia cenderung mendominasi dalam pola asuh anak, sehingga anak yang diasuhnya dapat berhasil menjadi seorang yang sukses dan dapat membanggakannya terutama dalam bidang olahraga seperti apa yang telah dicapainya. Hal tersebut dapat memunculkan rasa superioritasnya dalam sebuah karir sebagai atlet, seorang wanita cenderung mendominasi pencapaian prestasi di berbagai kejuaraan bidang olahraga yang digelutinya. Prestasi tersebut akan membuktikan bahwa ia memiliki superioritas dan tidak dianggap sebagai wanita yang terbelenggu dalam inferioritasnya.
Seorang wanita yang memiliki karir sebagai seorang atlet dan juga sebagai ibu rumah tangga harus mampu mengaplikasikan masculine protestnya dalam kehidupan sehari-harinya. Wanita yang memiliki karir cemerlang dibanding dengan suaminya lebih mendominasi dalam sebuah keluarga, karena ia memiliki rasa superioritas tinggi dibanding suaminya. Tidak jarang hal tersebut dapat membuat keretakan dalam rumah tangga, pasalnya sebuah superioritas dapat memunculkan keegoisan seorang individu terutama superioritas pribadi. Superioritas pribadi dapat diartikan sebagai superioritas yang bersifat personal dan tidak ada hubungannya dengan orang lain.
Masculine protest pada seorang wanita diaplikasikan untuk menumbuhkan rasa superioritas yang ada dalam dirinya dan menghilangkan rasa inferioritas yang dibawanya sejak lahir. Seorang wanita yang memiliki peran ganda sebagai seorang atlet dan ibu rumah tangga, ia mampu membuktikan bahwa inferioritas tidak menghalanginya menuju puncak supeioritas. Prestasinya dibidang olah raga dan sebagai ibu yang mampu mengasuh anaknya dengan baik merupakan superioritas yang dicapainya dengan aplikasi masculine protest, yang identik dengan sebuah kekuatan dan keberanian.